Just another WordPress.com site

BAB II

BAB II

PENYUSUNAN DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN RUMUSAN HIPOTESIS

 

A.    Nilai Perusahaan

1.      Definisi Nilai Perusahaan

       Dalam jangka panjang, tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Semakin tinggi nilai perusahaan menggambarkan semakin sejahtera pula pemiliknya.

Menurut Fama, nilai perusahaan akan tercermin dari harga pasar sahamnya. Jensen menjelaskan bahwa untuk memaksimumkan nilai perusahaan tidak hanya nilai ekuitas saja yang harus diperhatikan, tetapi juga semua klaim keuangan seperti hutang, warran maupun saham preferen[1].

Wiyanto, menjelaskan salah satu hal yang dipertimbangkan oleh investor dalam melakukan investasi adalah nilai perusahaan dimana investor tersebut akan menanamkan modal. Fokus utama dalam penciptaan nilai adalah pada semua kesempatan yang ada untuk menilai saham atau sekuritas[2].

Ruky (1997), berdasarkan pandangan keuangan nilai perusahaan adalah nilai kini (present value) dari pendapatan mendatang (future free cash flow), Ruky (1998), menjelaskan nilai perusahaan adalah nilai pasar kapital[3].

Husnan dan Pudjiastuti menyatakan pendapat dengan semakin tinggi nilai perusahaan, semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik perusahaan[4].

Sehingga dapat disimpulkan nilai perusahaan dapat dilihat dari harga sahamnya. Semakin tinggi nilai perusahaan, semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemiliknya.

2.      Tujuan perusahaan

Setiap perusahaan memiliki tujuan, tujuan perusahaan adalah mendapatkan keuntungan dan memaksimumkan kesejahterakan pemegang saham dengan cara meningkatkan harga saham.

Menurut Fama (1978) dalam Agus Purwanto tujuan perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan, yang tercermin pada harga saham perusahaan[5]

William F. Glueck, tujuan perusahaan sebagai hasil terakhir yang dicari organisasi melalui eksistensi dan operasinya. Beraneka ragam tujuan yang berbeda dikejar oleh organisasi perusahaan, seperti kesinambungan keuntungan, efisiensi, mutu produk, menjadi market leader dan lain-lain[6].

Weston mengungkapkan bahwa tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan nilai perusahaan. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan akan meningkat, sedangkan nilai hutang perusahaan (obligasi) tidak terpengaruh sama sekali, sebaliknya, jika perusahaan berjalan tersendat-sendat, maka hak pemberi hutang akan didahulukan, sedangkan nilai saham perusahaan akan menurun dratis. Jika suatu investasi dengan resiko yang lebih besar berhasil, maka dampaknya akan langsung  menguntungkan para pemegang saham. Sebaliknya jika investasi tersebut gagal, maka jaminan bagi para pemegang obligasi akan terancam dan akan menurunkan nilai obligasi[7].

Dapat disimpulkan bahwa tujuan perusahaan adalah agar dapat memaksimumkan laba dan memaksimumkan nilai perusahaan atau kekayaan pemegang saham.

Glueck menjelaskan 4 alasan mengapa perusahaan harus mempunyai tujuan.

  1. Tujuan membantu mendefinisikan organisasi dalam lingkungannya.
  2. Tujuan membantu mengkoordinasi keputusan dan pengambilan keputusan.
  3. Tujuan menyediakan norma untuk menilai pelaksanaan prestasi organisasi. Tujuan merupakan sasaran yang lebih nyata daripada pernyataan misi[8].

Tujuan umum perusahaan dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

  1. Memaksimumkan keuntungan (maximize profit)

Untuk memaksimumkan keuntungan maka variabel yang utama diperhatikan adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan penerimaan itu sendiri. Dalam hal ini, maka jumlah dan harga output perusahaan menjadi variabel utama. Dilihat dari aspek ini, maka tanggung jawab bagian pemasaran (marketing department) adalah sangat dominan dalam mencapai tujuan perusahaan dengan asumsi bahwa harga di pasar adalah bersaing sempurna.

2.   Memaksimumkan nilai perusahaan (maximize the value of the firm)

Apabila perusahaan lebih memilih untuk tidak memaksimumkan keuntungan karena hal tersebut bersifat jangka pendek, maka alternatif memaksimumkan nilai perusahaan adalah tujuan yang tepat untuk jangka menengah atau jangka panjang. Nilai perusahaan (value of firm) adalah nilai dari laba yang diperoleh dan diharapkan pada masa yang akan datang, yang dihitung pada masa sekarang dengan memperhitungkan tingkat resiko dan tingkat bunga yang tepat.

Dipandang dari tanggung jawab system yang terdapat pada perusahaan tersebut, maka bagian keuangan (finance department) lebih dominan dalam pengaturan ini. Tentunya hal ini saling terkait dan saling mempengaruhi dengan bagian lain, misalnya bagian akuntansi (accounting department) yang dapat memberikan informasi yang akurat atas jumlah penjualan dan biaya.

3.   Meminimumkan biaya (minimize profit)

Tujuan ketiga dari perusahaan secara umum adalah menyangkut efisiensi atau lebih dikenal dengan meminimumkan biaya. Dilihat dari aspek teori organisasi, tanggung jawab utama dalam meminimasi biaya terletak pada bagian produksi (production department) yang didukung oleh bagian personalia (personnel department).

Dari ketiga kerangka teori tujuan perusahaan tersebut, dapat dilihat faktor-faktor yang mana yang harus diprioritaskan dalam suatu pengembangan organisasi[9].

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan perusahaan adalah selain memaksimumkan keuntungan, memaksimumkan nilai perusahaan dan meminimumkan biaya tetapi juga harus mempertimbangkan kepentingan pemilik modal, pekerja, konsumen, pemasok, lingkungan, masyarakat dan pemerintah.

3.      Kebijakan Manajemen Keuangan

Untuk mencapai nilai perusahaan yang maksimal maka manajemen keuangan harus mengambil kebijakan pendanaan, investasi dan kebijakan dividen.

1.   Kebijakan Pendanaan (Financing Decision)

Kebijakan pendanaan adalah kebijakan pemilik dan manajemen perusahaan untuk mencari sumber modal untuk membiayai kegiatan bisnis.

Riyanto dalam Umi Murtini mendefinisikan pembiayaan dalam suatu perusahaan dibedakan menurut jenis modalnya dibagi menjadi:

a.  Modal asing/utang

Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya bekerja. Sementara di dalam perusahaan, dan bagi perusahaan yang bersangkutan modal tersebut merupakan utang, yang pada saatnya harus dibayar kembali. Utang dapat dibedakan menjadi tiga gologan: utang jangka pendek (short term debt), utang jangka menengah (intermediate term debt), dan utang jangka panjang (long term debt).

b.  Modal Sendiri

Modal sendiri pada dasarnya adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan yang tertanam di dalam perusah aan untuk waktu yang tidak terlalu lama. Modal sendiri di dalam suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), terdiri dari saham (tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu perusahaan) adapun jenisnya saham meliputi saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock)[10].

Dapat disimpulkan, sumber eksternal/modal asing ialah utang (Debt); utang jangka pendek (short term debt), utang jangka menengah (intermediate term debt), dan utang jangka panjang (long term debt) dan sumber internal/modal sendiri ialah Modal saham (capital stock) yang terdiri dari: saham istimewa dan saham biasa

2.    Kebijakan Investasi (Investment Decision)

Farma (1978) dalam Umi mengatakan bahwa nilai suatu perusahaan semata-mata ditentukan oleh keputusan investasi. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa keputusan investasi itu penting, karena untuk mencapai tujuan perusahaan hanya akan dihasilkan melalui kegiatan investasi perusahaan. Keputusan invetasi tidak dapat diamati secara langsung oleh pihak luar[11].

Dapat diimpulkan, kebijakan investasi adalah kebijakan dalam penggunaan dana berdasarkan pemikiran hasil yang sebesar-besarnya dan resiko yang sekecil-kecilnya.

3.   Kebijakan Dividen (Dividen Decision)

Keputusan dividen didefinisikan sebagai keputusan yang menyangkut kebijakan perusahaan yang berhubungan dengan penentuan persentase laba bersih perusahaan yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham. Sesuai dengan penelitian terdahalu seperti yang dilakukan oleh Kallapur dan Trombley (1999), Fitrijanti dan Hartono (2001) dan Hasnawati (2005)[12].

Kebijakan bisnis adalah kegiatan perusahaan untuk mencari laba dan membagikan laba dalam bentuk dividen atau laba ditahan guna diinvestasikan kembali di dalam perusahaan.

4.      Masalah keagenan

Masalah keagenan timbul karena adanya pertentangan kepentingan antara pemegang saham dengan manajer

Menurut Michael Jensen dan William Meckling dalam Weston, hubungan manajemen keagenan sebagai suatu kontrak, di mana satu atau beberapa orang (principal) mempekerjakan orang lain (agency) untuk melaksanakan sejumlah jasa mendelegasikan wewenang untuk mengambil keputusan kepada agen tersebut[13].

Menurut Agus Purwanto, manajer sebagai agen yang diberi kekuasaan oleh pemilik perusahaan (principle) untuk membuat keputusan yang dapat memaksimumkan kekayaan pemegang saham telah menciptakan konflik potensial atas kepentingan masing-masing pihak disebut dengan teori keagenan (agency theory). Pemisahan antara pemilik perusahaan dan pengelola perusahaan berdampak pada terjadinya ketidakseimbangan informasi (asyimmetric information) yang diperoleh oleh masing-masing pihak[14].

Dengan demikian untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu memkasimumkan kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan, manajer akan berdasarkan keputusan investasi, pendanaan dan keputusan dividen. Setiap keputusan keuangan yang dilakukan perusahaan secara langsung akan berdampak terhadap peningkatan nilai perusahaan.

Menurut Fama dan Jensen dalam J. Fred Weston, teori kontraktual mengenai sifat dasar perusahaan sekarang makin luas digunakan, teori itu memandang perusahaan sebagai suatu jaringan kontrak-kontrak. Pemilik perusahaan memegang klaim tersisa atas laba meskipun kontrak-kontrak menentukan hak dan tanggung jawab dari setiap golongan pemegang resiko perusahaan, konflik yang potensial terjadi karena partipasi juga mempunyai tujuan pribadi[15].

Handono, dengan adanya biaya keagenan, pemegang saham dan manajer menjadi saling bergantung dan saling memperhatikan. Pemegang saham harus memperhatikan kesejahteraan manajernya agar manajer tetap konsisten memaksimalkan nilai perusahaan sebagai tujuannya[16].

Menurut Mann dan Neil dalam Mai, manajer sebagai agen pemegang saham akan mengambil tindakan yang hanya memaksimumkan kepentingannya sendiri bila saja tidak ada insentif lain atau tidak dimonitor. Bila hal ini terjadi tentunya tidak akan konsisten dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan[17].

Dapat disimpulkan bahwa adanya biaya keagenan justru mendorong semua pihak (pemegang saham,manajer dan kreditor) selalu berusaha memaksimalkan kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan (harga saham). Jika ada satu pihak yang melalaikan tujuan itu, nilai perusahaan (harga saham) cenderung turun sehingga semua pihak harus menanggung kerugian.

5.      Tobin’s Q

Pertumbuhan perusahaan merupakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan size, yang dapat diproksikan dengan adanya peningkatan aktiva, ekuitas, laba dan penjualan serta Tobin’s Q. perusahaan dikatakan tumbuh atau berkembang jika nilai Tobin’s Q lebih besar atau sama dengan 1, dan dikatakan tidak tumbuh jika mempunyai nilai kecil dari 1. Nilai perusahaan yang diproksikan dengan nilai Tobin’s Q,  model ini telah digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Suranta dan Mechfoedz (2003) dan Suranta dan Merdistusi (2004). Chong dan Lopez de Silanes (2006) dan Darmawari, et al (2004) Pengukuran Tobin’s Q Model sebagai berikut:

Q = ( EMV + D ) / ( EBV + D )

Keterangan:

Q                     = Nilai Perusahaan

EMV               = Nilai pasar ekuitas (Equit Market Value) dimana, EMV     = Harga saham penutupan (closing price) akhir tahun dikalikan dengan jumlah saham yang beredar akhir tahun

D                     = Nilai buku dari total hutang

EBV                = Nilai buku dari total aktiva (Equity Book Value)

Perusahaan yang menunjukkan Tobin’s Q lebih besar berarti perusahaan tersebut memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dengan baik[18].

B.     Manajemen Laba

1.      Definisi Manajemen Laba

Adanya perbedaan kepentingan antara pemegeng saham dengan agen, perbedaan ini terjadi karena kemakmuran manajer sangat kecil dibandingkan dengan perubahan kemakmuran pemegang saham, sehingga manjer cenderung untuk mencari keuntungan sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Kecenderungan tersebut membuat praktek manajemen laba lebih sering dilakukan oleh manajemen.

Menurut Scott “Earnings management is the choice by a manager of accounting policies so as achieve some specific objective”[19]. Dari pengertian ini dijelaskan bahwa Manajemen laba merupakan pilihan oleh manajer kebijakan akuntansi yang mencapai beberapa tujuan spesifik.

Belkaoui, Manajemen laba yaitu suatu kemampuan untuk “memanipulasi” pilihan-pilihan yang tersedia dan mengambil pilihan yang tepat untuk dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan[20].

Kieso, Weygant dan Warfield (2002) dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Intermediate mendefinisikan “earnings management sebagai perencanaan waktu pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian untuk mengurangi gejolak laba”[21].

Dalam Saiful, Schipper mendefiniskan manajemen laba sebagai suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja memperoleh beberapa keuntungan pribadi[22].

Menurut Sutrisno (2001), “manajamen laba merujuk pada penggunaan pelaporan manajerial diskresi, dengan mengubah angka laba yang dilaporkan kepada pihak eksternal perusahaan untuk keuntungan privat manajemen”[23].

Merchant dan Rockness dalam Saring Suhendro, manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan yang bisa memberikan informasi mengenal keuntungan ekonomis yang sesungguhnya tidak dialami perusahaan[24].

Sugiri (1998) definisi earnings management dibagi menjadi dua, yaitu:

a)   Definis Sempit

Earnings management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earnings management dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya laba.

b)   Definis luas

Earnings management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut[25].

Dapat disimpulkan bahwa manajemen laba adalah pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajemen perusahaan dalam memanipulasi laba yang dilaporkan agar dapat mencapai tujuannya yaitu untuk memaksimalkan nilai perusahaan dan mensejahteraan pemegang saham.

Beberapa pola yang dilakukan manajemen perusahaan dalam memanipulasi laporan keuangan, antara lain:

2.      Motivasi Manajemen Laba

Kebijakan akuntansi yang memberi kebebasan kepada manajemen dalam memilih dan menetapkan metode-metode akuntansi menjadi dasar utama untuk melakukan manajemen laba. Ada beberapa motivasi yang mendorong melakukan manajemen laba.

Menurut Scott, motivasi melakukan manajemen laba[26]:

1)      Motivasi bonus

Pada motivasi ini, diasumsikan bahwa manajer meningkatkan keuntungan yang dilaporkan dalam upaya untuk memaksimalkan imbalan bonus.

Para manajer yang bekerja pada perusahaan yang menerapkan rencana bonus akan berusaha mengatur laba yang dilaporkan dengan tujuan dapat memaksimalkan jumlah bonus yang akan diterima (Hearly,1985; Holthausen dkk, 1995; Gaver dan Austin, 1995)[27].

2)      Motivasi Kontrak Utang (Debt Contract Motivations)

Perjanjian ini muncul karena perjanjian antara manajer dan perusahaan dalam kepemilikan manajerial dan penjanjian hutang.

Semakin dekat suatu perusahaan kepada waktu pelanggaran perjanjian utang, maka para manajer akan cenderung untuk memilih metode akuntansi yang dapat memindahkan laba perioda mendatang ke perioda berjalan dengan harapan dapat mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami perjanjian pelanggaran kontrak utang (Deakin, 1979; Dhahval, 1980; Bowen dkk, 1981; Defond dan Jiambalvo, 1994)[28].

3)      Memenuhi Ekspektasi Laba Investor (To Meet Investor’s Earnings Management)

Investor mengharpkan laba yang didasarkan pada penghasilan untuk periode tahun lalu atau pada perkiraan laba masa depan. Perusahaan yang laporan laba lebih besar dari yang diharapkan biasanya menikmati kenaikan harga saham yang signifikasn, karena investor merevisi atas kinerja yang baik[29].

4)      Penawaran Sahan Perdana (Initial Public Offerings/IPO)

Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan sahamnya di pasar modal belum memiliki harga pasar sehingga masalah yang dihadapi dalam menetapkan nilai saham yang akan ditawarkan.

Pada awal perusahaan menjual sahamnya kepada public, informasi keuangan yang dipublikasikan dalam prospectus merupakan sumber informasi yang sangat penting. Informasi ini dimanfaatkan sebagai sinyal kepada investor potensial terkait dengan nilai perusahaan. Guna mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh para investor maka manajer akan berusaha untuk menaikkan jumlah laba yang dilaporkan (Neil dkk, 1995; Richardson, 1998; Sutanto, 2000; Gumanti, 2001)[30]

Berdasarkan uraian di atas secara umum dapat disimpulkan bahwa praktek manajemen laba telah dilakukan di banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak motivasi manajer ketika melakukan laba menimbulkan kesulitan dalam membedakan apakan motivasi manajemen bersifat oportunistis ataukan efisien.

3.      Pola Manajemen Laba

Beberapa pola yang dilakukan manajemen perusahaan dalam memanipulasi laporan keuangan, antara lain:

Menurut Scott terdapat beberapa pola manajemen laba yaitu[31]:

1)      Penurunan Laba Secara Besar-Besaran (Taking bath)

Ini dapat terjadi pada periode tekanan organisasional termasuk mengangkat pimpinan baru. Apabila perusahaan harus melaporkan kerugian, manajemen mungkin akan merasa terdorong untuk melaporkan kerugian yang besar – tidak ada ruginya pada titik ini. Konsekuensinya, mereka akan menghapus asset, menyediakan biaya yang diharapkan di masa mendatang, dan secara umum akan meningkatkan probabilitas keuntungan yang dilaporkan di masa datang[32].

2)      Penurunan Laba (Income Minimization)

Pola ini mirip dengan take a bath, pola seperti ini dapat dipilih perusahaan yang secara politis. Nampak jelas selama periode kentungan tinggi. Kebijakan yang menganjurkan income minimization termasuk penghapusan atas modal asset dan modal tidak berwujud, pembebanan periklanan dan pembelajaan riset dan pengembangan, dan lain-lain[33].

3)      Penaikkan Laba (income maximization)

Manajer biasanya melakukan pola ini pada saat akan menerima bonus, untuk menghindari pelanggaran perjanjian, juga pada saat periode penawaran saham perdana. Pola ini dapat dilakukan dengan mengakui pendapatan terlebih dahulu, menunda pengakuan beban, dan lain-lain[34].

4)      Perataan Laba (Income Smoothing)

Praktik perataan laba atau normalisasi laba dapat mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan dan dapat meningkatkan kemampuan investor untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang. Dengan aliran laba yang stabil diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan di pasar modal[35].

Dapat disimpulkan bahwa pola manajemen laba tersebut didapat dipilih dan dilakukan oleh manajemen untuk mendapat memaksimalkan laba perusahaan agar mendapat citra yang baik dalam menjalankan perusahaan.

4.      Perataan Laba

       Salah satu bentuk tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan adalah perataan laba dengan tujuan menarik perhatian investor untuk berinvestasi.

Copeland dalam Wiwik Utami, mendefinisikan manajemen laba sebagai “some ability to increase or decrease reported net income at will”. Ini berarti bahwa manajemen laba mencakup usaha manajemen untuk memaksimalkan atau meminimumkan laba, termasuk perataan laba sesuai dengan keinginan manajemen[36].

Koch dalam Ari Dewi mendefinisikan perataan laba sebagai cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artifisial melalui metode akuntansi, maupun secara riil melalui transaksi[37].

Atmini, tindakan perataan mempunyai dua tipe yaitu perataan laba yang dilakukan secara sengaja oleh manajemen dan perataan laba yang terjadi secara alami terjadi secara alami. Perataan laba secara alami terjadi sebagai proses menghasilkan suatu aliran laba yang merata, sementara perataan laba yang sengaja dapat terjadi akibat teknik perataan laba riil atau teknik perataan laba artifisial[38].

Atmini (2000) dikutip dari Eckel (1981) dalam Zuhroh (1996), Perataan laba riil adalah perataan laba yang terjadi apabila manajemen mengambil tindakan untuk menyusun kejadian-kejadian ekonomi sehingga menghasilkan aliran laba yang rata. Perataan laba artifisial adalah perataan laba yang terjadi apabila manajemen memanipulasi saat pencatatan akuntansi untuk menghasilkan aliran laba yang rata[39].

Sehingga dapat disimpulkan bahwa perataan laba dilakukan untuk memanipulasi laba yang diinginkan manajemen dengan menggunakan metode akuntansi ataupun dengan melalui transaksi.

Sasaran perataan laba telah banyak diinterpretasikan dengan banyak cara:

  1. Copeland, menemukan bahwa laba bersih (net income) sebagai sasaran perataan laba
  2. Ronen dan Sadan, menemukan bahwa laba normal (ordinary incomei) sebagai sasaran pokok perataan laba
  3. Imholf, sasaran perataan laba meliputi: earnings per share (EPS), laba bersih, laba bersih sebelum pos luar biasa dan gross margin[40].

Tindakan perataan laba diuji dengan indeks Eckel (1981), Eckel menggunakan Coefficient Variation (CV) variabel penghasilan dan variabel penjualan bersih.

Indeks perataan laba dihitung sebagai berikut (Eckel, 1981)

Indeks perataan laba = CVΔI / CVΔS

Dimana:

CV      = Koefisien variasi dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan nilai yang diharapkan.

ΔS       = Perubahan penjualan/penghasilan dalam satu periode

ΔI        = Perubahan laba bersih dalam satu periode

Apabila : CVΔI > CVΔS

Maka perusahaan tidak digolongkan sebagai perusahaan yang melakukan tindakan perataan laba.

CVΔI  = Koefisien variasi untuk perubahan laba

CVΔS  = Koefisien variasi untuk perubahan penjualan

CVΔI  dan CVΔS dapat dihitung sebagai berikut:

CVΔI dan CVΔS =         Variance     

                                       Expected Value

Atau

CVΔI dan CVΔS = Σ (Δx –Δx)²

√n -1

Dimana,

Δx        = Perubahan laba (I) atau penjualan (S) antara tahun n dengan n-1

n          = Banyaknya tahun yang diamati[41].

C. Hubungan Manajemen Laba Terhadap Nilai Perusahaan

Scott (1997) mendefinisikan earnings management sebagai tindakan manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi dari suatu standar tertentu dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan atau nilai perusahaan[42].

Praktik manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan yang bisa memberikan informasi mengenal keuntungan ekonomis yang sesungguhnya tidak dialami perusahaan (Merchant dan Rockness, 1994)[43].

Binter dan Dolan melakukan penelitian antara manajemen laba sebagai proksi kualitas laba dan nilai perusahaan dengan menggunakan variabel leverage dan firm size. Ditemukan bukti bahwa baik dengan menggunakan laba bersih atau ordinary income yang digunakan sebagai sasaran manajemen laba, leverage merupakan determinan negative yang signifikan secara statistik. Sedangkan firm size berhubungan secara negative namun secara statistik tidak signifikan[44].

Manajemen dapat meningkatkan nilai perusahaan melalui pengungkapan informasi tambahan dalam laporan keuangan namun peningkatan pengungkapan laporan keuangan akan mengurangi asimetri informasi sehingga peluang manajemen untuk melakukan manajemen laba semakin kecil (Lobo dan Zhou, 2001) serta (Sylvia Veronica dan Yanvivi Bachtiar, 2003) dalam (Halim J. Meiden C dan Tobing 2005)[45].

Perusahaan yang melakukan manajemen laba akan mengungkapan lebih sedikit informasi dalam laporan keuangan agar tindakannya tidak mudah terdeteksi. Namun terdapat kemungkinan sebaliknya, jika manajemen laba dilakukan untuk tujuan mengkomunikasikan informasi dan meningkatkan nilai perusahaan, maka seharusnya hubungan yang terjadi adalah positif[46].

Makaryanawati dalam Murwaningsari menemukan bukti bahwa praktik manajemen laba berpengaruh positif dan signitifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pasar modal di Indonesia membayar premium atau member preferensi terhadap perusahaan yang melakukan praktik manajemen laba[47].

Asih dalam Murwaningsari, menguji manajemen laba terhadap nilai dan kinerja perusahaan pada saat dan setelah IPO kepada publik. Hasil penelitian menujukan bukti bahwa pada perusahaan-perusahaan melakukan manajemen laba yang mengingkatkan laba saat melakukan penawaran publik perdana saham, manajemen laba berpengaruh positif pada nilai perusahaan saat IPO[48].

Dapat disimpulkan bahwa manajemen laba tindakan manajemen unuk memilih kebijakan akuntasi dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan atau nilai perusahaan dengan cara mempengaruhi laba yang dilaporkan oleh manajamen yang menimbulkan kualitas laba yang dilaporkan menjadi rendah, namun jika manajemen memberikan informasi yang lebih banyak kepada pemegang saham maka akan meningkatkan nilai perusahaan secara positif.

D.      Kerangka Berpikir

Dalam jangka panjang, tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Semakin tinggi nilai perusahaan menggambarkan semakin sejahtera pula pemiliknya.

       Tujuan memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham adalah merupakan tujuan yang diarahkan pada peningkatan harga saham pada pasar modal.

Pasar modal merupakan salah satu penyedia dana bagi sektor produktif yang sangat dibutuhkan keberadaannya dalam meningkatkan pembangunan suatu negara, yang memiliki peran pentingnya dalam mobilisasi dana dari pemodal kepada perusahaan secara efisien. Pasar modal dipandang sebagai suatu sarana yang efektif untuk ikut serta mempercepat pembangunan suatu negara. Hal ini dikarenakan pasar modal merupakan pengarahan dana masyarakat.

Peningkatan harga saham identik dengan peningkatan kemakmuran para pemegang saham, dan peningkatan harga saham identik dengan peningkatan nilai perusahaan.  Meningkatnya harga saham mencerminkan kepercayaan pasar yang baiknya prospek perusahaan bersangkutan pada masa mendatang.

Secara teknis para manajer merupakan wakil dari pemilik, akan tetapi pada kenyataannya mereka mengendalikan perusahaan secara keseluruhan. Dengan demikian bisa terjadi konflik kepentingan antara pemilik dengan para manajer yang mempunyai kepentingan pribadi sendiri. Kondisi demikian menimbulkan “masalah perbedaan kepentingan” (agency problem).

Konsep teori agensi adalah hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Ketidakseimbangan inilah yang disebut asimetri informasi. Adanya asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agent memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimiliki untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui oleh principal, termasuk informasi mengenai laba.

Adanya kecenderungan lebih memperhatikan laba ini disadari oleh manajemen, khususnya manajer yang kinerjanya diukur berdasarkan informasi tersebut, sehingga mendorong timbulnya perilaku menyimpang (dysfunctional behavior), yang satu bentuknya adalah earnings management.

Perhatian investor yang sering terpusat pada informasi laba tanpa memperhatikan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan informasi laba mendorong manajer untuk melakukan manajemen atas laba (earnings management).

E.       Perumusan Masalah

Berdasarkan kajian teoritik dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis penelitian yang akan dilakukan ini yaitu terdapat hubungan positif antara manajeman laba terhadap nilai perusahaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: