Just another WordPress.com site

DAFTAR PUSTAKA

Abubakar Arif, Seri Perusahaan Dagang – Akuntansi Untuk Bisnis Usaha Kecil dan Menegah, Grasindo

Agnes Utari Widyaningdyah, Analisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Earnings Management Pada Perusahaan Go Public di Indonesia, “Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.3, No.2, November 2001

Agus Purwanto, Karakteristik Perusahaan, Praktik GCG, Keputusan Keuangan, Perataan laba dan Nilai Perusahaan, “Jurnal Maksi, Vol.9, No.2 Agustus 2009

Ahmed Riahi – Belkaoui, Accounting Theory Buku Satu – Edisi 5 (Jakarta: Salemba Empat, 2006)

Ari Dewi Cahyati, Reaksi Pasar dan Informasi Asimetri Terhadap Tindakan Perataan Laba Pada Perusahaan Manufaktur, Jurnal Riset Akuntansi dan Komputerisasi Akuntansi, Vol.1, No.1, Febuari 2010

Arifin Sitio, Buku Koperasi; Teori dan Praktik

Bambang Widjajanta, Mengasah Kemampuan Ekonomi Untuk kelas XI, Cv Citra   Praya

Donal E. Kieso et al, Akuntansi Intermediate – Edisi 12 (Jakarta: Erlangga, 2002)

Edy Suwito, Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Perataan Laba  Yang Dilakukan Oleh Perusahaan Yang Terdaftar Di Bei, Jurnal SNA VIII Solo,15-16 September 2005

Etty Murwaningsari, Pengaruh Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Manajemen Laba Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Di BEI) Vol. 13, No.2, November 2008

Farah Margaretha, Manajemen Keuangan Bagi Industri Jasa, Grasindo

44

Handono Mardiyanto, Inti Sari Manajemen Keuangan, Grasindo

Hendra Mochtar Setiono, Identifikasi Adanya Manajemen Laba Pada Laporan Keuangan Yang Dipublikasikan Oleh Perusahaan Yang Melakukan Penawaran Saham Perdana (IPO), Jurnal Akuntansi dan Teknologi Informasi Vol.3, November 2001

J. Fred Weston, Manajemen Keuangan Edisi KesembilanEdisi 1 – Edisi Revisi (Jakarta: Binarupa Aksara, 1995)

………………..  Dasar-dasar Manajemen Keuangan Jilid 1 (Jakarta: Erlangga)

Julia Halim, Pengaruh Manajemen Laba Pada Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Termasuk Dalam Indeks LQ-45, SNA 8 Solo, 15-16 September 2005

Liauw She Jin, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Manajemen Laba Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.1, No.2, Juli 1998

Made Sukartha, Pengaruh Manajemen Laba, Kepemilikan Manajerial dan Ukuran Perusahaan Pada Kesejahteraan Pemegang Saham Perusahaan Target Akuisisi, Jurnal Riset Akuntansi, Vol.10, No.3, September 2007

Makaryanawati, Pengaruh Perataan Laba dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan, Tesis UGM, 2002

Michell Suharli, Pengaruh Nilai Perusahaan Terhadap Return dengan Price Earnings Ratio Sebagai Variabel Moderate (Studi Empiris Pada Persahaan Terdaftar Indeks LQ-45), Jurnal Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Moh. Pabundu Tika, Metodologi Riset Bisnis (Jakarta: Bumi Aksara, 2006)

Muhamad Umai Mai, Pengaruh Perilaku Manajerial Dalam Penggunaan Dana dan Restrukturisasi Keuangan Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 5, No.2, Juli 2006

Muhammad Ismail Yusanto, Menggagas Bisnis Islami (Jakarta: Gema Insani Press, 2002), h. 175

Ndaruningpuri Wulandari, Pengaruh Asimetri Informasi, Manajemen Laba dan Indikator Mekanisme Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan Publik di Indonesia, “Jurnal Fokus Ekonomi Vol.3 No.1, Juni 2008

Saiful, Hubungan Manajemen Laba dengan Kinerja Operasi dan Return Saham di Sekitar IPO, ”Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.7, No.3, September 2004

Saring Suhendro, Motivasi dan Etika Manajemen Laba, “Jurnal Forum Ekonomi, Vol. IX, No.2, Juli 2006

Sri Sulistyanto, Manajemen Laba Teori dan Model Empiris, Grasindo

Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2007), h.61Bambang Prasetyo, Metode Penelitian Kuantitatif (Jakarta: Rajawali Pers)

Sukardi,  Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktinya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)

Sutrisno, “Studi Analitikal Pengaruh Bentuk Manajemen Laba (Eanings Management) Terhadap Hubungan Antara Return Laba”, Lintasan Ekonomi, Vol. XVIII, No.2, 2001

Umi Murtini, Pengaruh Kebijakan Manajemen Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan, “Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, Vol.4, No. 1, Febuari 2008

Untung Wahyudi, Implikasi Struktur Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan, Dengan Keputusan Keuangan Sebagai Variabe; Intervening, Jurnal Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang

William R. Scott, “Financial Accounting Theory”, Prearson Prentice Hall

Wiwik Utami, Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Biaya Modal Ekuitas, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.9, No.2, Mei 2006

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 A.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan data yang valid, benar dan dapat di percaya tentang hubungan  manajemen laba dengan nilai perusahaan pada manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2009.

B.     Metode Penelitian

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adlah metode survey, yaitu dengan cara mengamati keadaan wajar dan sebenernya tanpa usaha yang disengaja untuk mempengaruhi, mengatur , atau memanipulasi data. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan korelasional. Pendekatan korelasional digunakan juga karena dapat mengetahui seberapa besar kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat, serta besar arah hubungan yang terjadi antara keduanya.

C.    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Bursa Efek Indonesia di Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan dan waktu penelitian akan dilakukanselama 3 (tiga) bulan dari bulan Maret sampai Mei tahun 2011.

D.    Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya[1].

Dalam penelitian ini, populasinya adalah seluruh perusahaan  manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada periode 2009. Sedangkan populasi terjangkaunya adalah perusahaan manufaktur yang dapat memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Perusahaan manufaktur yang sudah go public terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2009.
  2. Perusahaan  menerbitkan  laporan  tahunan  pada tanggal 31 Desember peride tahun 2008-2009. Kriteria ini diperlukan untuk menghitung indeks perataan laba.
  3. Data harga saham dan jumlah saham yang beredar mulai akhir Desember 2008 sampai dengan akhir Desember 2009 tersedia dibursa atau di media masa. Kriteria ini diperlukan untuk menghitung nilai Tobin’s Q
  4. Perusahaan menggunakan mata uang Rupiah dalam penilaian laporan keuanga selama tahun 2008-2009.

Berdasarkan kriteria tersebut, populasi terjangkau didapat sebanyak 120 perusahaan. Penentuan jumlah sampel dapat dilihat dari tabel Isaac dan Michael dengan taraf  kesalahan 5% didapat sebanyak 89 Perusahaan terpilih sebagai sampel penelitian.

E.     Instrumen Penelitian

Penelitian ini meneliti dua variabel, yaitu manajemen laba sebagai variabel X dan nilai perusahaan sebagai variabel Y. sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder. Data-data dalam penelitian ini diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) di Bursa Efek Indonesia (BEI) serta diperoleh dari website resmi BEI (www.idx.co.id).

       1.      Variabel Bebas (Manajemen Laba)

                 a.      Definisi Konseptual

Manajemen laba dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan apabila digunakan untuk pengambilan keputusan, karena earnings management merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan keuangan yang menjadi sarana komunikasi antara manajer dan pihak eksternal perusahaan.

                  b.     Definisi Operasional

Ditinjau dari variabel perataan laba, penelitian ini termasuk multiperiod studies, bukan one-period studies. Multiperiod studies dimaksudkan untuk “menangkap” achievement dari perataan, sedangkan one-period studies dimaksudkan untuk mengidentifikasi usaha untuk meratakan.

Perataan laba yang akan diukur dalam bentuk indeks akan membedakan perusahaan yang melakukan praktik manajemen laba dengan yang tidak. Untuk tujuan ini, indeks Eckel.

indeks Eckel ini tepat jika digunakan dalam multiperiod studies.

Indeks perataan laba   = CVΔI / CVΔS

Dimana:

CV      = Koefisien variasi dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan expected value (mean).

ΔS       = Perubahan penjualan/penghasilan selama dua tahun

ΔI        = Perubahan laba bersih selama dua tahun

       2.      Variabel Terikat (Nilai Perusahaan)

                  a.      Definisi Konseptual

Nilai perusahaan merupakan gambaran dari kesejahteraan pemegang saham. Semakin tinggi nilai perusahaan maka dapat menggambarkan semakin sejahtera pula pemiliknya. Nilai perusahaan dapat dilihat melalui nilai pasar atau nilai buku perusahaan dari ekuitasnya. Dalam neraca keuangan, ekuitas menggambarkan total modal perusahaan. Selain itu, nilai pasar bisa menjadi ukuran nilai perusahaan.

b.      Definisi Operasional

Nilai perusahaan (Tobin’s Q Model). Model ini digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Suranta dan Machfoedz (2003) dan Suranta dan Merdistusi (2004)[2].

Pengukuran Tobin’s Q Model sebagai berikut:

Q  = ( EMV + D ) / ( EBV + D )

Keterangan:

Q         = Nilai Perusahaan

EMV   = Nilai pasar ekuitas (Equit Market Value) dimana, EMV     = Harga saham penutupan (closing price) akhir tahun dikalikan dengan jumlah saham yang beredar akhir tahun

D         = Nilai buku dari total hutang

Beberapa penelitian terdahulu menggunakan Tobin’s Q model yang diberi symbol “Q” untuk mengukur nilai perusahaan. Perusahaan yang menunjukkan Tobin’s Q lebih besar berarti perusahaan tersebut memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dengan baik.  

F.     Konstelasi Hubungan Antara Variabel/Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, menggunakan analisis bivariat. penulis menggunakan bentuk desain yang umum dipakai dalam suatu korelasi, sebagai berikut:[3]

Keterangan:

Variabel X             = Manajemen Laba

Variabel Y             = Nilai Perusahaan

= Arah Hubungan

G.    Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data, dilakukan dengan cara uji regresi dan korelasi. Langkah-langkah perhitangan tersbut adalah[4]:

  1. Uji Persamaan Regresi

Ŷ = a + bX

Keterangan:

Ŷ         = Y yang diprediksi

a          = Nilai konstanta

b          = koefisien arah regresi

X         = Variabel bebas

Dimana rumus mencari nilai a dan b adalah sebagai berikut :

a = ( ∑ Y ) ( ∑ X2 ) – ( ∑ X ) ( ∑ XY)

n∑ X2 – ( ∑ X )2

b = n∑XY – (∑X) (∑Y)

n∑X2 – (∑X)2

  1. Uji Persyaratan Analisis

Melakukan pengujian untuk mengetahui galat taksiran regresi Y atas X dengan menggunakan uji Liliefor pada taraf signifikan 0,05 dengan rumus:

Lo = F(Zi) – S(Zi)

Dimana :

Lo           = L observasi (harga mutlak terbesar)

F(Zi)       = Peluang baku

S(Zi)       = Proporsi angka baku

Hipotesa statistik :

Ho          = Galat taksiran regresi Y atas X berdistribusi normal

Hi           = Galat taksiran regresi Y atas X tidak berdistribusikan normal

Dengan kriteria hasil pengujian bahwa galat taksiran regresi Y atas X dianggap normal bila Lo < Lt

  1. Uji Hipotesis
    1. Uji Keberartian Regresi

Uji keberartian regresi digunakan untuk mengetahui apakah persamaan regresi yang diperoleh berarti atau tidak (signifikan). Perhitungan Fhitungpada uji keberartian regresi sebagai berikut:

Fhitung   =   Sreg2

Sres2

Hipotesis Statistik :

Ho       : β ≤ 0

Hi        : β > 0

Kriteria pengujian keberartian regresi adalah :

Terima Ho jika Fhitung < F tabel, yang berarti regresi signifikan

Tolak Ho jika Fhitung > Ftabel, yang berarti regresi tidak signifikan

Perhitungan keberartian regresi dan linieritas dapat dilihat pada tabel ANAVA (Analisis Varians).

Tabel

Analisis Varians

Sumber Varians

Dk

JK

KT

F

Total N ∑Y12 ∑Y12
Regresi a

Regresi (b/a)

Residu/Sisa

1

1

n-2

(∑Y1)2

n

JKreg = JK (b/a)

Jkres = ∑Y2 – JK (b/a) – JK a

(∑Y1)2

n

Sreg2 = JKreg

Sres2 = JKres

                   N

Sreg2

Sres2

Tuna cocok

Kekeliruan

k-2 JK(TC) = Jkres – JK(E)

JK (E) = ∑(∑Yk2 - (∑Yk)2)

nk

STC2 = JK (TC)

k-2

Se2 = JK (E)

n-k

STC2

Se2

  1. Uji Linearitas Regresi

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah persamaan regresi merupakan bentuk linear atau tidak. Perhitungan Fhitung pada uji lineritas sebagai berikut:

Fhitung   =   STC2

Se2

Kriteria pengujian linearitas regresi adalah :

Terima Ho jika Fhitung < F tabel  dan tolak Ho jika Fhitung > Ftabel, regresi dinyatakan linear bila berhasil menerima Ho.

  1. Uji Koefisien Korelasi

Untuk menguji koefisien korelasi, digunakan rumus “r” (product moment dari Pearson). Rumus :[5]

rxy =                  n∑ XY – (∑ X) (∑ Y)

√{n∑X2 – (∑X)2}{n∑Y2 – (∑Y)2}

Keterangan :

rxy = Angka keterkaitan hubungan

n    = Jumlah sampel

X    = Jumlah skor dalam sebaran X

Y    = Jumlah skor dalam sebaran Y

  1. Uji Keberartian Koefisien Korelasi

Untuk melihat keberartian hubungan antara variabel X dan variabel Y, maka perlu dilakukan pengujian dengan menggunakan rumus yaitu:

r √ n-2

thitung  =

√ 1-r2

                Keterangan :

                thitung                  = skor signifikasi koefisien korelasi

                r                     = koefisien korelasi product moment

                n                   = banyaknya sampel

                Hipotesa statistik :

                Ho                : β ≤ 0

                Hi                 : β > 0

                Kriteria pengujian sebagai berikut :

                Terima Ho jika Fhitung < F tabel

                Tolak Ho jika Fhitung > Ftabel

Jika Hiditerima, maka koefisien korelasi signifikan, sehingga disimpulkan bahwa diantara variabel X dan Y terdapat hubungan positif. Akan tetapi bila Ho yang diterima maka tidak terdapat hubungan dari kedua variabel tersebut.

  1. Uji Koefisien Determinasi

Hal ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Koefisien determinasi dapat dihitung dengan rumus:

KD       =  rxy 2 x 100%

Dimana :

KD      = besar koefisien determinasi

rxy       = nilai product moment

BAB II

PENYUSUNAN DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN RUMUSAN HIPOTESIS

 

A.    Nilai Perusahaan

1.      Definisi Nilai Perusahaan

       Dalam jangka panjang, tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Semakin tinggi nilai perusahaan menggambarkan semakin sejahtera pula pemiliknya.

Menurut Fama, nilai perusahaan akan tercermin dari harga pasar sahamnya. Jensen menjelaskan bahwa untuk memaksimumkan nilai perusahaan tidak hanya nilai ekuitas saja yang harus diperhatikan, tetapi juga semua klaim keuangan seperti hutang, warran maupun saham preferen[1].

Wiyanto, menjelaskan salah satu hal yang dipertimbangkan oleh investor dalam melakukan investasi adalah nilai perusahaan dimana investor tersebut akan menanamkan modal. Fokus utama dalam penciptaan nilai adalah pada semua kesempatan yang ada untuk menilai saham atau sekuritas[2].

Ruky (1997), berdasarkan pandangan keuangan nilai perusahaan adalah nilai kini (present value) dari pendapatan mendatang (future free cash flow), Ruky (1998), menjelaskan nilai perusahaan adalah nilai pasar kapital[3].

Husnan dan Pudjiastuti menyatakan pendapat dengan semakin tinggi nilai perusahaan, semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik perusahaan[4].

Sehingga dapat disimpulkan nilai perusahaan dapat dilihat dari harga sahamnya. Semakin tinggi nilai perusahaan, semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemiliknya.

2.      Tujuan perusahaan

Setiap perusahaan memiliki tujuan, tujuan perusahaan adalah mendapatkan keuntungan dan memaksimumkan kesejahterakan pemegang saham dengan cara meningkatkan harga saham.

Menurut Fama (1978) dalam Agus Purwanto tujuan perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan, yang tercermin pada harga saham perusahaan[5]

William F. Glueck, tujuan perusahaan sebagai hasil terakhir yang dicari organisasi melalui eksistensi dan operasinya. Beraneka ragam tujuan yang berbeda dikejar oleh organisasi perusahaan, seperti kesinambungan keuntungan, efisiensi, mutu produk, menjadi market leader dan lain-lain[6].

Weston mengungkapkan bahwa tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan nilai perusahaan. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan akan meningkat, sedangkan nilai hutang perusahaan (obligasi) tidak terpengaruh sama sekali, sebaliknya, jika perusahaan berjalan tersendat-sendat, maka hak pemberi hutang akan didahulukan, sedangkan nilai saham perusahaan akan menurun dratis. Jika suatu investasi dengan resiko yang lebih besar berhasil, maka dampaknya akan langsung  menguntungkan para pemegang saham. Sebaliknya jika investasi tersebut gagal, maka jaminan bagi para pemegang obligasi akan terancam dan akan menurunkan nilai obligasi[7].

Dapat disimpulkan bahwa tujuan perusahaan adalah agar dapat memaksimumkan laba dan memaksimumkan nilai perusahaan atau kekayaan pemegang saham.

Glueck menjelaskan 4 alasan mengapa perusahaan harus mempunyai tujuan.

  1. Tujuan membantu mendefinisikan organisasi dalam lingkungannya.
  2. Tujuan membantu mengkoordinasi keputusan dan pengambilan keputusan.
  3. Tujuan menyediakan norma untuk menilai pelaksanaan prestasi organisasi. Tujuan merupakan sasaran yang lebih nyata daripada pernyataan misi[8].

Tujuan umum perusahaan dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

  1. Memaksimumkan keuntungan (maximize profit)

Untuk memaksimumkan keuntungan maka variabel yang utama diperhatikan adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan penerimaan itu sendiri. Dalam hal ini, maka jumlah dan harga output perusahaan menjadi variabel utama. Dilihat dari aspek ini, maka tanggung jawab bagian pemasaran (marketing department) adalah sangat dominan dalam mencapai tujuan perusahaan dengan asumsi bahwa harga di pasar adalah bersaing sempurna.

2.   Memaksimumkan nilai perusahaan (maximize the value of the firm)

Apabila perusahaan lebih memilih untuk tidak memaksimumkan keuntungan karena hal tersebut bersifat jangka pendek, maka alternatif memaksimumkan nilai perusahaan adalah tujuan yang tepat untuk jangka menengah atau jangka panjang. Nilai perusahaan (value of firm) adalah nilai dari laba yang diperoleh dan diharapkan pada masa yang akan datang, yang dihitung pada masa sekarang dengan memperhitungkan tingkat resiko dan tingkat bunga yang tepat.

Dipandang dari tanggung jawab system yang terdapat pada perusahaan tersebut, maka bagian keuangan (finance department) lebih dominan dalam pengaturan ini. Tentunya hal ini saling terkait dan saling mempengaruhi dengan bagian lain, misalnya bagian akuntansi (accounting department) yang dapat memberikan informasi yang akurat atas jumlah penjualan dan biaya.

3.   Meminimumkan biaya (minimize profit)

Tujuan ketiga dari perusahaan secara umum adalah menyangkut efisiensi atau lebih dikenal dengan meminimumkan biaya. Dilihat dari aspek teori organisasi, tanggung jawab utama dalam meminimasi biaya terletak pada bagian produksi (production department) yang didukung oleh bagian personalia (personnel department).

Dari ketiga kerangka teori tujuan perusahaan tersebut, dapat dilihat faktor-faktor yang mana yang harus diprioritaskan dalam suatu pengembangan organisasi[9].

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan perusahaan adalah selain memaksimumkan keuntungan, memaksimumkan nilai perusahaan dan meminimumkan biaya tetapi juga harus mempertimbangkan kepentingan pemilik modal, pekerja, konsumen, pemasok, lingkungan, masyarakat dan pemerintah.

3.      Kebijakan Manajemen Keuangan

Untuk mencapai nilai perusahaan yang maksimal maka manajemen keuangan harus mengambil kebijakan pendanaan, investasi dan kebijakan dividen.

1.   Kebijakan Pendanaan (Financing Decision)

Kebijakan pendanaan adalah kebijakan pemilik dan manajemen perusahaan untuk mencari sumber modal untuk membiayai kegiatan bisnis.

Riyanto dalam Umi Murtini mendefinisikan pembiayaan dalam suatu perusahaan dibedakan menurut jenis modalnya dibagi menjadi:

a.  Modal asing/utang

Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya bekerja. Sementara di dalam perusahaan, dan bagi perusahaan yang bersangkutan modal tersebut merupakan utang, yang pada saatnya harus dibayar kembali. Utang dapat dibedakan menjadi tiga gologan: utang jangka pendek (short term debt), utang jangka menengah (intermediate term debt), dan utang jangka panjang (long term debt).

b.  Modal Sendiri

Modal sendiri pada dasarnya adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan yang tertanam di dalam perusah aan untuk waktu yang tidak terlalu lama. Modal sendiri di dalam suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), terdiri dari saham (tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu perusahaan) adapun jenisnya saham meliputi saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock)[10].

Dapat disimpulkan, sumber eksternal/modal asing ialah utang (Debt); utang jangka pendek (short term debt), utang jangka menengah (intermediate term debt), dan utang jangka panjang (long term debt) dan sumber internal/modal sendiri ialah Modal saham (capital stock) yang terdiri dari: saham istimewa dan saham biasa

2.    Kebijakan Investasi (Investment Decision)

Farma (1978) dalam Umi mengatakan bahwa nilai suatu perusahaan semata-mata ditentukan oleh keputusan investasi. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa keputusan investasi itu penting, karena untuk mencapai tujuan perusahaan hanya akan dihasilkan melalui kegiatan investasi perusahaan. Keputusan invetasi tidak dapat diamati secara langsung oleh pihak luar[11].

Dapat diimpulkan, kebijakan investasi adalah kebijakan dalam penggunaan dana berdasarkan pemikiran hasil yang sebesar-besarnya dan resiko yang sekecil-kecilnya.

3.   Kebijakan Dividen (Dividen Decision)

Keputusan dividen didefinisikan sebagai keputusan yang menyangkut kebijakan perusahaan yang berhubungan dengan penentuan persentase laba bersih perusahaan yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham. Sesuai dengan penelitian terdahalu seperti yang dilakukan oleh Kallapur dan Trombley (1999), Fitrijanti dan Hartono (2001) dan Hasnawati (2005)[12].

Kebijakan bisnis adalah kegiatan perusahaan untuk mencari laba dan membagikan laba dalam bentuk dividen atau laba ditahan guna diinvestasikan kembali di dalam perusahaan.

4.      Masalah keagenan

Masalah keagenan timbul karena adanya pertentangan kepentingan antara pemegang saham dengan manajer

Menurut Michael Jensen dan William Meckling dalam Weston, hubungan manajemen keagenan sebagai suatu kontrak, di mana satu atau beberapa orang (principal) mempekerjakan orang lain (agency) untuk melaksanakan sejumlah jasa mendelegasikan wewenang untuk mengambil keputusan kepada agen tersebut[13].

Menurut Agus Purwanto, manajer sebagai agen yang diberi kekuasaan oleh pemilik perusahaan (principle) untuk membuat keputusan yang dapat memaksimumkan kekayaan pemegang saham telah menciptakan konflik potensial atas kepentingan masing-masing pihak disebut dengan teori keagenan (agency theory). Pemisahan antara pemilik perusahaan dan pengelola perusahaan berdampak pada terjadinya ketidakseimbangan informasi (asyimmetric information) yang diperoleh oleh masing-masing pihak[14].

Dengan demikian untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu memkasimumkan kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan, manajer akan berdasarkan keputusan investasi, pendanaan dan keputusan dividen. Setiap keputusan keuangan yang dilakukan perusahaan secara langsung akan berdampak terhadap peningkatan nilai perusahaan.

Menurut Fama dan Jensen dalam J. Fred Weston, teori kontraktual mengenai sifat dasar perusahaan sekarang makin luas digunakan, teori itu memandang perusahaan sebagai suatu jaringan kontrak-kontrak. Pemilik perusahaan memegang klaim tersisa atas laba meskipun kontrak-kontrak menentukan hak dan tanggung jawab dari setiap golongan pemegang resiko perusahaan, konflik yang potensial terjadi karena partipasi juga mempunyai tujuan pribadi[15].

Handono, dengan adanya biaya keagenan, pemegang saham dan manajer menjadi saling bergantung dan saling memperhatikan. Pemegang saham harus memperhatikan kesejahteraan manajernya agar manajer tetap konsisten memaksimalkan nilai perusahaan sebagai tujuannya[16].

Menurut Mann dan Neil dalam Mai, manajer sebagai agen pemegang saham akan mengambil tindakan yang hanya memaksimumkan kepentingannya sendiri bila saja tidak ada insentif lain atau tidak dimonitor. Bila hal ini terjadi tentunya tidak akan konsisten dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan[17].

Dapat disimpulkan bahwa adanya biaya keagenan justru mendorong semua pihak (pemegang saham,manajer dan kreditor) selalu berusaha memaksimalkan kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan (harga saham). Jika ada satu pihak yang melalaikan tujuan itu, nilai perusahaan (harga saham) cenderung turun sehingga semua pihak harus menanggung kerugian.

5.      Tobin’s Q

Pertumbuhan perusahaan merupakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan size, yang dapat diproksikan dengan adanya peningkatan aktiva, ekuitas, laba dan penjualan serta Tobin’s Q. perusahaan dikatakan tumbuh atau berkembang jika nilai Tobin’s Q lebih besar atau sama dengan 1, dan dikatakan tidak tumbuh jika mempunyai nilai kecil dari 1. Nilai perusahaan yang diproksikan dengan nilai Tobin’s Q,  model ini telah digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Suranta dan Mechfoedz (2003) dan Suranta dan Merdistusi (2004). Chong dan Lopez de Silanes (2006) dan Darmawari, et al (2004) Pengukuran Tobin’s Q Model sebagai berikut:

Q = ( EMV + D ) / ( EBV + D )

Keterangan:

Q                     = Nilai Perusahaan

EMV               = Nilai pasar ekuitas (Equit Market Value) dimana, EMV     = Harga saham penutupan (closing price) akhir tahun dikalikan dengan jumlah saham yang beredar akhir tahun

D                     = Nilai buku dari total hutang

EBV                = Nilai buku dari total aktiva (Equity Book Value)

Perusahaan yang menunjukkan Tobin’s Q lebih besar berarti perusahaan tersebut memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dengan baik[18].

B.     Manajemen Laba

1.      Definisi Manajemen Laba

Adanya perbedaan kepentingan antara pemegeng saham dengan agen, perbedaan ini terjadi karena kemakmuran manajer sangat kecil dibandingkan dengan perubahan kemakmuran pemegang saham, sehingga manjer cenderung untuk mencari keuntungan sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Kecenderungan tersebut membuat praktek manajemen laba lebih sering dilakukan oleh manajemen.

Menurut Scott “Earnings management is the choice by a manager of accounting policies so as achieve some specific objective”[19]. Dari pengertian ini dijelaskan bahwa Manajemen laba merupakan pilihan oleh manajer kebijakan akuntansi yang mencapai beberapa tujuan spesifik.

Belkaoui, Manajemen laba yaitu suatu kemampuan untuk “memanipulasi” pilihan-pilihan yang tersedia dan mengambil pilihan yang tepat untuk dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan[20].

Kieso, Weygant dan Warfield (2002) dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Intermediate mendefinisikan “earnings management sebagai perencanaan waktu pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian untuk mengurangi gejolak laba”[21].

Dalam Saiful, Schipper mendefiniskan manajemen laba sebagai suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja memperoleh beberapa keuntungan pribadi[22].

Menurut Sutrisno (2001), “manajamen laba merujuk pada penggunaan pelaporan manajerial diskresi, dengan mengubah angka laba yang dilaporkan kepada pihak eksternal perusahaan untuk keuntungan privat manajemen”[23].

Merchant dan Rockness dalam Saring Suhendro, manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan yang bisa memberikan informasi mengenal keuntungan ekonomis yang sesungguhnya tidak dialami perusahaan[24].

Sugiri (1998) definisi earnings management dibagi menjadi dua, yaitu:

a)   Definis Sempit

Earnings management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earnings management dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya laba.

b)   Definis luas

Earnings management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut[25].

Dapat disimpulkan bahwa manajemen laba adalah pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajemen perusahaan dalam memanipulasi laba yang dilaporkan agar dapat mencapai tujuannya yaitu untuk memaksimalkan nilai perusahaan dan mensejahteraan pemegang saham.

Beberapa pola yang dilakukan manajemen perusahaan dalam memanipulasi laporan keuangan, antara lain:

2.      Motivasi Manajemen Laba

Kebijakan akuntansi yang memberi kebebasan kepada manajemen dalam memilih dan menetapkan metode-metode akuntansi menjadi dasar utama untuk melakukan manajemen laba. Ada beberapa motivasi yang mendorong melakukan manajemen laba.

Menurut Scott, motivasi melakukan manajemen laba[26]:

1)      Motivasi bonus

Pada motivasi ini, diasumsikan bahwa manajer meningkatkan keuntungan yang dilaporkan dalam upaya untuk memaksimalkan imbalan bonus.

Para manajer yang bekerja pada perusahaan yang menerapkan rencana bonus akan berusaha mengatur laba yang dilaporkan dengan tujuan dapat memaksimalkan jumlah bonus yang akan diterima (Hearly,1985; Holthausen dkk, 1995; Gaver dan Austin, 1995)[27].

2)      Motivasi Kontrak Utang (Debt Contract Motivations)

Perjanjian ini muncul karena perjanjian antara manajer dan perusahaan dalam kepemilikan manajerial dan penjanjian hutang.

Semakin dekat suatu perusahaan kepada waktu pelanggaran perjanjian utang, maka para manajer akan cenderung untuk memilih metode akuntansi yang dapat memindahkan laba perioda mendatang ke perioda berjalan dengan harapan dapat mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami perjanjian pelanggaran kontrak utang (Deakin, 1979; Dhahval, 1980; Bowen dkk, 1981; Defond dan Jiambalvo, 1994)[28].

3)      Memenuhi Ekspektasi Laba Investor (To Meet Investor’s Earnings Management)

Investor mengharpkan laba yang didasarkan pada penghasilan untuk periode tahun lalu atau pada perkiraan laba masa depan. Perusahaan yang laporan laba lebih besar dari yang diharapkan biasanya menikmati kenaikan harga saham yang signifikasn, karena investor merevisi atas kinerja yang baik[29].

4)      Penawaran Sahan Perdana (Initial Public Offerings/IPO)

Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan sahamnya di pasar modal belum memiliki harga pasar sehingga masalah yang dihadapi dalam menetapkan nilai saham yang akan ditawarkan.

Pada awal perusahaan menjual sahamnya kepada public, informasi keuangan yang dipublikasikan dalam prospectus merupakan sumber informasi yang sangat penting. Informasi ini dimanfaatkan sebagai sinyal kepada investor potensial terkait dengan nilai perusahaan. Guna mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh para investor maka manajer akan berusaha untuk menaikkan jumlah laba yang dilaporkan (Neil dkk, 1995; Richardson, 1998; Sutanto, 2000; Gumanti, 2001)[30]

Berdasarkan uraian di atas secara umum dapat disimpulkan bahwa praktek manajemen laba telah dilakukan di banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak motivasi manajer ketika melakukan laba menimbulkan kesulitan dalam membedakan apakan motivasi manajemen bersifat oportunistis ataukan efisien.

3.      Pola Manajemen Laba

Beberapa pola yang dilakukan manajemen perusahaan dalam memanipulasi laporan keuangan, antara lain:

Menurut Scott terdapat beberapa pola manajemen laba yaitu[31]:

1)      Penurunan Laba Secara Besar-Besaran (Taking bath)

Ini dapat terjadi pada periode tekanan organisasional termasuk mengangkat pimpinan baru. Apabila perusahaan harus melaporkan kerugian, manajemen mungkin akan merasa terdorong untuk melaporkan kerugian yang besar – tidak ada ruginya pada titik ini. Konsekuensinya, mereka akan menghapus asset, menyediakan biaya yang diharapkan di masa mendatang, dan secara umum akan meningkatkan probabilitas keuntungan yang dilaporkan di masa datang[32].

2)      Penurunan Laba (Income Minimization)

Pola ini mirip dengan take a bath, pola seperti ini dapat dipilih perusahaan yang secara politis. Nampak jelas selama periode kentungan tinggi. Kebijakan yang menganjurkan income minimization termasuk penghapusan atas modal asset dan modal tidak berwujud, pembebanan periklanan dan pembelajaan riset dan pengembangan, dan lain-lain[33].

3)      Penaikkan Laba (income maximization)

Manajer biasanya melakukan pola ini pada saat akan menerima bonus, untuk menghindari pelanggaran perjanjian, juga pada saat periode penawaran saham perdana. Pola ini dapat dilakukan dengan mengakui pendapatan terlebih dahulu, menunda pengakuan beban, dan lain-lain[34].

4)      Perataan Laba (Income Smoothing)

Praktik perataan laba atau normalisasi laba dapat mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan dan dapat meningkatkan kemampuan investor untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang. Dengan aliran laba yang stabil diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan di pasar modal[35].

Dapat disimpulkan bahwa pola manajemen laba tersebut didapat dipilih dan dilakukan oleh manajemen untuk mendapat memaksimalkan laba perusahaan agar mendapat citra yang baik dalam menjalankan perusahaan.

4.      Perataan Laba

       Salah satu bentuk tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan adalah perataan laba dengan tujuan menarik perhatian investor untuk berinvestasi.

Copeland dalam Wiwik Utami, mendefinisikan manajemen laba sebagai “some ability to increase or decrease reported net income at will”. Ini berarti bahwa manajemen laba mencakup usaha manajemen untuk memaksimalkan atau meminimumkan laba, termasuk perataan laba sesuai dengan keinginan manajemen[36].

Koch dalam Ari Dewi mendefinisikan perataan laba sebagai cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artifisial melalui metode akuntansi, maupun secara riil melalui transaksi[37].

Atmini, tindakan perataan mempunyai dua tipe yaitu perataan laba yang dilakukan secara sengaja oleh manajemen dan perataan laba yang terjadi secara alami terjadi secara alami. Perataan laba secara alami terjadi sebagai proses menghasilkan suatu aliran laba yang merata, sementara perataan laba yang sengaja dapat terjadi akibat teknik perataan laba riil atau teknik perataan laba artifisial[38].

Atmini (2000) dikutip dari Eckel (1981) dalam Zuhroh (1996), Perataan laba riil adalah perataan laba yang terjadi apabila manajemen mengambil tindakan untuk menyusun kejadian-kejadian ekonomi sehingga menghasilkan aliran laba yang rata. Perataan laba artifisial adalah perataan laba yang terjadi apabila manajemen memanipulasi saat pencatatan akuntansi untuk menghasilkan aliran laba yang rata[39].

Sehingga dapat disimpulkan bahwa perataan laba dilakukan untuk memanipulasi laba yang diinginkan manajemen dengan menggunakan metode akuntansi ataupun dengan melalui transaksi.

Sasaran perataan laba telah banyak diinterpretasikan dengan banyak cara:

  1. Copeland, menemukan bahwa laba bersih (net income) sebagai sasaran perataan laba
  2. Ronen dan Sadan, menemukan bahwa laba normal (ordinary incomei) sebagai sasaran pokok perataan laba
  3. Imholf, sasaran perataan laba meliputi: earnings per share (EPS), laba bersih, laba bersih sebelum pos luar biasa dan gross margin[40].

Tindakan perataan laba diuji dengan indeks Eckel (1981), Eckel menggunakan Coefficient Variation (CV) variabel penghasilan dan variabel penjualan bersih.

Indeks perataan laba dihitung sebagai berikut (Eckel, 1981)

Indeks perataan laba = CVΔI / CVΔS

Dimana:

CV      = Koefisien variasi dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan nilai yang diharapkan.

ΔS       = Perubahan penjualan/penghasilan dalam satu periode

ΔI        = Perubahan laba bersih dalam satu periode

Apabila : CVΔI > CVΔS

Maka perusahaan tidak digolongkan sebagai perusahaan yang melakukan tindakan perataan laba.

CVΔI  = Koefisien variasi untuk perubahan laba

CVΔS  = Koefisien variasi untuk perubahan penjualan

CVΔI  dan CVΔS dapat dihitung sebagai berikut:

CVΔI dan CVΔS =         Variance     

                                       Expected Value

Atau

CVΔI dan CVΔS = Σ (Δx –Δx)²

√n -1

Dimana,

Δx        = Perubahan laba (I) atau penjualan (S) antara tahun n dengan n-1

n          = Banyaknya tahun yang diamati[41].

C. Hubungan Manajemen Laba Terhadap Nilai Perusahaan

Scott (1997) mendefinisikan earnings management sebagai tindakan manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi dari suatu standar tertentu dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan atau nilai perusahaan[42].

Praktik manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan yang bisa memberikan informasi mengenal keuntungan ekonomis yang sesungguhnya tidak dialami perusahaan (Merchant dan Rockness, 1994)[43].

Binter dan Dolan melakukan penelitian antara manajemen laba sebagai proksi kualitas laba dan nilai perusahaan dengan menggunakan variabel leverage dan firm size. Ditemukan bukti bahwa baik dengan menggunakan laba bersih atau ordinary income yang digunakan sebagai sasaran manajemen laba, leverage merupakan determinan negative yang signifikan secara statistik. Sedangkan firm size berhubungan secara negative namun secara statistik tidak signifikan[44].

Manajemen dapat meningkatkan nilai perusahaan melalui pengungkapan informasi tambahan dalam laporan keuangan namun peningkatan pengungkapan laporan keuangan akan mengurangi asimetri informasi sehingga peluang manajemen untuk melakukan manajemen laba semakin kecil (Lobo dan Zhou, 2001) serta (Sylvia Veronica dan Yanvivi Bachtiar, 2003) dalam (Halim J. Meiden C dan Tobing 2005)[45].

Perusahaan yang melakukan manajemen laba akan mengungkapan lebih sedikit informasi dalam laporan keuangan agar tindakannya tidak mudah terdeteksi. Namun terdapat kemungkinan sebaliknya, jika manajemen laba dilakukan untuk tujuan mengkomunikasikan informasi dan meningkatkan nilai perusahaan, maka seharusnya hubungan yang terjadi adalah positif[46].

Makaryanawati dalam Murwaningsari menemukan bukti bahwa praktik manajemen laba berpengaruh positif dan signitifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pasar modal di Indonesia membayar premium atau member preferensi terhadap perusahaan yang melakukan praktik manajemen laba[47].

Asih dalam Murwaningsari, menguji manajemen laba terhadap nilai dan kinerja perusahaan pada saat dan setelah IPO kepada publik. Hasil penelitian menujukan bukti bahwa pada perusahaan-perusahaan melakukan manajemen laba yang mengingkatkan laba saat melakukan penawaran publik perdana saham, manajemen laba berpengaruh positif pada nilai perusahaan saat IPO[48].

Dapat disimpulkan bahwa manajemen laba tindakan manajemen unuk memilih kebijakan akuntasi dengan tujuan memaksimalkan kesejahteraan atau nilai perusahaan dengan cara mempengaruhi laba yang dilaporkan oleh manajamen yang menimbulkan kualitas laba yang dilaporkan menjadi rendah, namun jika manajemen memberikan informasi yang lebih banyak kepada pemegang saham maka akan meningkatkan nilai perusahaan secara positif.

D.      Kerangka Berpikir

Dalam jangka panjang, tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Semakin tinggi nilai perusahaan menggambarkan semakin sejahtera pula pemiliknya.

       Tujuan memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham adalah merupakan tujuan yang diarahkan pada peningkatan harga saham pada pasar modal.

Pasar modal merupakan salah satu penyedia dana bagi sektor produktif yang sangat dibutuhkan keberadaannya dalam meningkatkan pembangunan suatu negara, yang memiliki peran pentingnya dalam mobilisasi dana dari pemodal kepada perusahaan secara efisien. Pasar modal dipandang sebagai suatu sarana yang efektif untuk ikut serta mempercepat pembangunan suatu negara. Hal ini dikarenakan pasar modal merupakan pengarahan dana masyarakat.

Peningkatan harga saham identik dengan peningkatan kemakmuran para pemegang saham, dan peningkatan harga saham identik dengan peningkatan nilai perusahaan.  Meningkatnya harga saham mencerminkan kepercayaan pasar yang baiknya prospek perusahaan bersangkutan pada masa mendatang.

Secara teknis para manajer merupakan wakil dari pemilik, akan tetapi pada kenyataannya mereka mengendalikan perusahaan secara keseluruhan. Dengan demikian bisa terjadi konflik kepentingan antara pemilik dengan para manajer yang mempunyai kepentingan pribadi sendiri. Kondisi demikian menimbulkan “masalah perbedaan kepentingan” (agency problem).

Konsep teori agensi adalah hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Ketidakseimbangan inilah yang disebut asimetri informasi. Adanya asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agent memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimiliki untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui oleh principal, termasuk informasi mengenai laba.

Adanya kecenderungan lebih memperhatikan laba ini disadari oleh manajemen, khususnya manajer yang kinerjanya diukur berdasarkan informasi tersebut, sehingga mendorong timbulnya perilaku menyimpang (dysfunctional behavior), yang satu bentuknya adalah earnings management.

Perhatian investor yang sering terpusat pada informasi laba tanpa memperhatikan prosedur yang digunakan untuk menghasilkan informasi laba mendorong manajer untuk melakukan manajemen atas laba (earnings management).

E.       Perumusan Masalah

Berdasarkan kajian teoritik dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis penelitian yang akan dilakukan ini yaitu terdapat hubungan positif antara manajeman laba terhadap nilai perusahaan.

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

       Pada umumnya setiap perusahaan yang didirikan mempunyai tujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Hal ini sesuai dengan tujuan utama yaitu meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham. Peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham dapat dinyatakan dalam bentuk memaksimalkan harga saham perusahaan yang berada di pasar modal.

Ditinjau dari segi perekonomian, pasar modal miliki dua fungsi, yaitu pertama sebagai bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat (investor). Kedua, pasar modal menjadi sara bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrument keuangan seperi saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimiliki sesuai dengan karakteristik keuntungan dan resiko masing-masing instrumen.

Instrument keuangan yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrument jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, waran, reksa dana dan berbagai instrument derivatif seperti option, futures dan lain-lain.

Saham merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.

Peningkatan harga saham identik dengan peningkatan kemakmuran para pemegang saham, dan peningkatan nilai perusahaan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa nilai perusahaan sama dengan nilai saham. Nilai perusahaan sama dengan nilai pasar per lembar ditambah dengan nilai pasar utangnya. Tetapi bila besarnya nilai utang dipegang konstan, maka setiap peningkatan nilai saham dengan sendirinya akan meningkatkan nilai perusahaan.

Nilai perusahaan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kinerja perusahaan, meningkatnya harga saham mencerminkan kepercayaan pasar yang baiknya prospek perusahaan bersangkutan pada masa mendatang.

Untuk memaksimumkan nilai perusahaan tidak hanya nilai ekuitas saja yang harus diperhatikan, tetapi juga semua klaim keuangan seperti hutang, waraan maupun saham.

Laporan keuangan merupakan media komunikasi yang penting untuk memberikan informasi tentang kondisi dan kinerja keuangan perusahaan dan merupakan salah satu media untuk membuat keputusan.

Optimalisasi nilai perusahaan yang merupakan tujuan perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan fungsi manajemen keuangan, dimana satu keputusan keuangan yang diambil akan memperngaruhi keputusan keuangan lainnya dan berdampak pada nilai perusahaan.

Berdasarkan kenyataan yang ada, seringkali perhatian pengguna laporan keuangan hanya ditujukan kepada informasi laba, tanpa memeperhatikan bagaimana laba tersebut dihasilkan. Hal ini mendorong manajemen perusahaan untuk melakukan beberapa tindakan yang disebut manajemen atas laba atau manipulasi laba (earnings management­).

Terdapat empat jenis manajemen laba: penurunan laba secara besar-besaran, penurunan laba, penaikkan laba dan perataan laba.

Tindakan perataan laba merupakan salah satu bentuk dari manajemen laba yang tidak terlepas dari asimetris informasi. Teori agensi memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya, sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent.

Dalam pasar modal, pelaku pasar modal juga mengalami masalah informasi asimetri. Ketika terdapat asimetri informasi, manajer dapat memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada investor guna memaksimalisasikan nilai saham perusahaan. Adanya informasi asimteri mempengaruhi harga saham, karena informasi yang lebih dan kurang diungkapkan akan menimbulkan biaya transaksi dan mengurangi ekspekstasi tentang likuiditas saham perusahaan di pasar modal. Asimetri informasi dapat dihindari dengan cara mengumumkan laba melalui pengungkapan laporan keuangan yang meluas pada media massa sehingga dapat menjelaskan keberadaan informasi laba dan dapat menurunankan asimetri informasi dalam pasar modal

B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya nilai perusahaan disebabkan oleh:

  1. Rendahnya harga saham di pasar modal
  2. Buruknya kinerja keuangan perusahaan
  3. Manajemen kurang transparan mengungkapkan informasi akuntansi
  4. Ketidakseimbangan informasi antara prinsipal dengan agen
  5. Rendahnya tingkat kesejahteraan pemegang saham
  6. Menurunnya kepercayaan pasar pada perospek perusahaan

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti hanya membatasi masalah pada “Hubungan manajemen laba terhadap nilai perusahaan”. Manajemen laba hanya dibatasi pada perataan laba dengan rumus perubahan penjualan/pengahasilan dalam satu periode dibagi perubahan laba bersih dalam satu periode. Nilai perusahaan dapat dihitung dengan menggunakan Tobin’s Q dengan harga saham penutup ditambah nilai buku total hutang dibagi nilai buku total aktiva ditambah nilai buku total hutang.

D.    Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah terdapat hubungan antara manajemen laba dengan nilai perusahaan”?

E.     Kegunaan Penelitian

Apabila penelitian ini berhasil, maka diharapkan dapat berguna:

  1. Bagi Peneliti, dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman di bidang akuntansi serta sebagai sarana pengaplikasikan teori yang dipelajari di bangku kuliah.
  2. Bagi Pengembang Ilmu Pengetahuan, dapat memberikan tambahan informasi mengenai manajemen laba, karena merupakan suatu kajian yang menarik dan terus berkembang
  3. Bagi Masyarakat, dapat berguna sebagai bahan bacaan dan referensi untuk menambah ilmu pengetahuan terutama bagi mereka yang sedang melaksanakan penelitian khususnya mengenai manajemen laba dan nilai perusahaan

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.